Showing posts with label PBNU. Show all posts
Showing posts with label PBNU. Show all posts
CILACAP - Dukungan serta doa dari sejumlah kalangan kepada Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), A Muhaimin Iskandar atau Cak Imin terus mengalir dari sejumlah kalangan.

Tak hanya dari kelompok organisasi dari berbagai elemen, sejumlah Kiai juga turut mendoakan Cak Imin, salah satunya dari Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj.

Ucapan tersebut terlontar ketika Kiai Said meresmikan koperasi NU Al Ma’wa dan Baitul Maal wat Tamwil (BMT) milik PCNU Cilacap, Jawa Tengah, Kamis 15 Maret 2018.

“Yang saya hormati Panglima Santri, Ketua Umum PKB, Cicitnya pendiri NU, keponakan Gus Dur, tetangga saya, Calon Wapres, Dr (HC) Muhaimin Iskandar,” kata Kiai Said dan disambut kata amin dari ratusan tamu undangan yang hadir.

Walaupun tidak secara tersurat, ungkapan Kiai Said ini tentu memiliki makna yang sangat positif untuk Cak Imin untuk maju sebagai Cawapres.

Hal ini senada dengan keinginan sejumlah Kiai dari seluruh pelosok Tanah Air yang juga memiliki keinginan yang sama.

Usai sambutan, Kiai Said dan Cak Imin yang juga didampingi Ketua PBNU, KH Marsyudi Syuhud, Anggota DPR RI Siti Mukaromah dan tokoh NU setempat lalu menandatangani prasasti Koperasi dan BMT NU.

Untuk diketahui, peresmian Koperasi NU dan BMT NU milik PCNU Cilacap ini mengambil tema “Membangun Kemandirian Umat”.

Dengan tema ini, PCNU Cilacap berkomitmen untuk tingkatkan daya semangat perekonomian warga NU, khususnya di Cilacap.
PKBNews - ROIS Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ma’ruf Amin hari ini genap berusia 75 tahun. Tasyakuran hari lahir ulama panutan bangsa ini pun digelar cukup semarak, salah satunya peluncuran buku biografinya oleh PT Bank Muamalat Indonesia Tbk.
 
Disela peluncuran buku yang digelar di Muamalat Tower, Jakarta, Senin (12/3/2018) itu, sejumlah tokoh dan ketua umum partai politik nampak hadir. Dua diantaranya Ketum PKB A Muhaimin Iskandar atau Cak Imin dan Ketum PPP Romahurmuziy.
 
Melihat kedua tokoh ini, Kiai Ma’ruf berseloroh keduanya sama-sama banyak diperbincangkan banyak orang saat ini lantaran baliho raksasa mereka bertebaran di sejumlah daerah di Indonesia.
 
Tak disangka, Kiai Ma’ruf menyebut Cak Imin lebih potensial dan lebih berani dibanding Romy. Kiai Maruf beralasan, baliho Cak Imin lebih jelas maksud dan tujuannya dibanding baliho Romy.
 
“Pak Muhaimin kabarnya anginnya sebagai calon wakil presiden, kalau Pak Romy cuma gambarnya doang tulisannya tidak ada. Saya bilang ke Pak Jokowi, Pak Muhaimin lebih berani daripada Pak Romy,” seloroh Kiai Ma’ruf disambut gelak tawa dan tepuk tangan hadirin.
 
Tak hanya itu, Kiai Ma’ruf juga menampakkan tindakan yang seolah mendukung langkah Panglima Santri itu menjadi Cawapres ketika potongan tumpeng pertama di hari ulatahnya diberikan kepada Cak Imin.
 
Dengan raut wajah sumringah dan senyum terukir simpul, Cak Imin menerima potongan tumpeng tersebut dari Kiai Ma’ruf yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia ini.
 
“Terimakasih Kiai. Semoga sehat selalu, manfaat dan bahagia,” kata Cak Imin.
 
Selain Cak Imin dan Romy, sejumlah tokoh lain juga hadir dalam acara ini. Di antaranya adalah Menko Polhukam Wiranto, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Mensesneg Pratikno, serta Menteri Desa dan Pembangunan Tertinggal Eko Putro Sandjojo.
 
Untuk diketahui, buku biografi Kiai Ma’ruf Amin ini berjudul `Penggerak Umat Pengayom Bangsa`. Buku ini ditulis oleh Direktur Indostrategic Economic Intelligence, Anif Punto Utomo.
 
Buku ini berisi rekam jejak utuh perjalanan kehidupan Ma’ruf Amin sejak masa anak-anak hingga saat ini menjadi pimpinan tertinggi di organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu Rais Aam PBNU.
Sidoarjo - Putra kiai (Gus) se-Jawa Timur yang tergabung dalam Forum Nahdliyin Bersatu (FNB) meminta Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) maju dalam Pilpres 2019. Cak Imin diyakini mampu membuat perubahan.

"Melalui forum ini, kami dari keluarga pesantren dan aktivis muda NU meminta kesediaan Cak Imin untuk tidak ragu, Cak Imin harus berani menerima dukungan warga NU di seluruh Indonesia yang menginginkannya maju dalam pilpres, baik sebagai capres maupun cawapres," kata Koordinator Forum Nahdliyin Bersatu wilayah Jawa Timur, H Abdus Salam Sokhib, dalam keterangan tertulis, Sabtu (10/2/2018).

Gus Salam, sapaan akrab Abdus Salam, menyebut Cak Imin sebagai representasi NU. Dia berharap perekonomian warga NU bisa terangkat jika Cak Imin terpilih sebagai presiden ataupun wapres.

"Kami ingin memastikan kesediaan Cak Imin untuk menerima mandat dukungan yang isinya adalah memperjuangkan dan menjamin agar warga NU bisa bangkit secara ekonomi sehingga bisa lebih sejahtera dan bermartabat," beber Gus Salam.

Dia menyebut pihaknya merasa prihatin atas kondisi warga NU yang masih berada di bawah garis kemiskinan. Padahal, menurut Salam, jumlah nahdliyin hampir separuh dari jumlah penduduk Indonesia.

"Artinya, separuh dari penduduk Indonesia masih berada di bawah kemiskinan," tegas Gus Salam.

Lebih jauh Gus Salam menjelaskan ada beberapa faktor yang menyebabkan tingkat kesejahteraan warga NU masih sangat rendah. Salah satunya kebijakan pemerintah yang masih mengimpor beras.
Jakarta - Dukungan agar Ketum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) bertarung di Pilpres 2019 datang dari pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah KH Nurul Huda Djazuli. Cak Imin menyambut baik dukungan itu, namun dia akan meminta petunjuk kepada para kiai soal capres yang akan didukung.

"Apa pun titah kiai, itu demi dan untuk kebaikan bangsa. Yang penting saat ini saya justru sedang minta petunjuk kiai, siapa calon presidennya yang harus kita dukung. Kita akan memastikan dulu siapa calon presidennya dalam waktu dekat," kata Cak Imin kepada wartawan, Rabu (7/2/2018).

PKB saat ini merupakan parpol pendukung Presiden Jokowi. Namun Cak Imin mengatakan pengumuman soal capres yang akan didukung pada Pilpres 2019 masih menunggu masukan dari para kiai.
"Tunggu waktunya dalam waktu dekat. Namanya sudah ada, tapi saya harus jalankan dulu sejumlah perintah kiai. Para kiai sepakat bahwa Indonesia butuh perbaikan, ekonomi umat perlu diangkat, khususnya kaum menengah ke bawah, termasuk para petani dan nelayan yang menjadi basis nahdliyin. Ini yang utama," ujarnya.

Tantangan ke depan, menurut Cak Imin, adalah membangun ekonomi masyarakat menengah ke bawah. Banyak warga nahdliyin, ujarnya, yang termasuk dalam kelompok masyarakat ini. Kalau pendapatan dan daya beli masyarakat menengah ke bawah meningkat, Cak Imin yakin Indonesia akan tumbuh.

"Dalam waktu singkat, saya akan keliling ke kiai-kiai se-Nusantara, khususnya Jawa dan Indonesia timur, termasuk menjalankan perintah kiai untuk bertanya ke basis nelayan dan petani, para tokoh agama, dan ketua adat, termasuk para ahli, untuk mendapat masukan. Mereka harus didengar untuk memastikan Indonesia milik semuanya dan dibangun secara gotong royong," ujar mantan Menakertrans ini. 


Cak Imin beserta Kiai dan Ulama se-Jatim (foto: Radarbangsa)
KEDIRI  - Kiai Jawa Timur kompak mendukung Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin untuk maju dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang.

Hal Itu disampaikan langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri, KH Nurul Huda Djazuli saat pertemuan ulama dan kiai pengasuh Pondok pesantren se-Jawa Timur di Kediri, Selasa 6 Februari 2018.

"Para kiai tadi kompak mendukung aspirasi kalangan NU agar Gus Imin maju jadi cawapres," ujarnya.

Menurut Kiai Nurul Huda, sudah saatnya kader Nahdlatul Ulama menjadi Wakil Presiden Indonesia. Ia akan all out mendukung Cak Imin untuk maju sebagai Cawapres mendatang.

"Saya setuju dan mendukung sekali Gus Imin jadi cawapres 2019, sudah saatnya kader NU jadi wapres," tambahnya.

Untuk itu, Kiai Huda menuturkan, NU kalau mau menang, kuncinya kompak dalam satu saf, kita uji kekompakan ini mulai dari Pemilihan Gubernur Jatim untuk Gus Ipul. "Kemenangan itu hanya bisa dicapai melalui jemaah, karena NU itu ya jemaah," tegasnya.
KH Yahya Qholil Tsaquf (Gus Yahya) menyampaikan pidato didepan ulama dunia di Gedung PBNU, Jakarta Pusat. (Dok. PBNU)


JAKARTA - Katib Aam PBNU KH Yahya Qholil Tsaquf menyampaikan bahwa kita semua mewarisi ajaran-ajaran yang agung dari agama kita tentang kemuliaan akhlak, tentang keselamatan lahir batin, dunia akhirat, dan tentang kasih sayang sesama.

Namun, dewasa ini kita menghadapi keadaan yang membuat kita mengalami kesulitan-kesulitan di dalam memanifestasikan ajaran agung itu di hadapan umat manusia.

"Keadaan itu adalah maraknya konflik, pertentangan dan perang yang tak kunjung usai di berbagai wilayah di seluruh dunia, termasuk khususnya di negara-negara berpenduduk umat Islam," kata pria yang akrab disapa Gus Yahya itu pada Multaqo ad-Duat al-Alami di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin, 22 Januari 2018 malam di Gedung PBNU, Jakarta.

Gus Yahya mengungkapkan, walaupun yang ramai dalam pemberitaan adalah konflik dan perang di wilayah-wilayah Islam, sesungguhnya ancaman dan pertentangan terjadi di seluruh dunia.

"Barat, yaitu Amerika dan Eropa misalnya, tidak lepas dari pertentangan dan konflik yang berpotensi bisa menghancurkan seluruh tatanan masyarakat," dia mencontohkan.

Ia menyebut bahwa negara Jerman setelah pemilu tidak mampu menyelesaikan pertentangan. Begitu juga Amerika Serikat, pemerintahnya terancam macet karena parlemen tidak mampu menghasilkan keputusan tentang anggaran negara.

Gus Yahya menuturkan seperti dikutip nu.or.id, konflik dan pertentangan terjadi merata di seluruh dunia. Apabila tidak segera umat manusia mencegahnya bersama-sama, bukan hanya umat Islam saja, tapi seluruh umat manusia agar mendapatkan jalan keluar dari konflik dan pertentangan ini.

"(Adanya konflik tersebut) maka yang terancam akan runtuh adalah seluruh peradaban umat manusia," terang Gus Yahya yang juga pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, Jawa Tengah ini.

Forum menghadirkan 13 ulama dari delapan negara, yaitu Syekh Ahmad Yusuf dari Kolumbia, Syekh Bilal Hallak dari Amerika, Syekh Torrieq Ghannam dari Libanon, Syekh Bakr Abu Culleh dari Amerika, Syekh Ibrohim Asy-Syafi`i dari Australia, Syekh Mohammad Osman dari Palestina, Syekh Said Aboy Hammous dari Libanon, Syekh Khalid Halabie dari Australia, Syekh Muhammad Aukal dari Amerika, Syekh Amjad Arafat dari Australia, Syekh Muhammad Al-Faraj dari Libanon, dan Syekh Omar Dayah dari Denmark. 

Sumber :  RADARBANGSA.COM