PKBNews - KETUA Umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor Yaqut Cholil Qoumas
bersama sejumlah pengurus badan otonomi di bawah Nahdatul Ulama (NU) itu
mengunjungi kantor DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jalan Raden
Saleh, Jakarta Pusat, Kamis (31/1/2018) sore. Tujuannya adalah
menyampaikan dukungan untuk Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar sebagai
calon wakil presiden pada Pemilu 2019.
Kehadiran Yaqut dan para petinggi GP Ansor disambut langsung oleh
Muhaimin yang didampingi Ketua Lembaga Pemenangan Pemilu (LPP) PKB
Marwan Jafar. Yaqut dalam kesempatan itu terlihat mengenakan kaus putih
bertuliskan Cak Imin Calon Wakil Presiden Zaman Now.
"Kami sengaja datang mengenakan kaus ini untuk menunjukkan dukungan
penuh GP Ansor bagi Cak Imin maju sebagai calon wakil presiden," kata
Yaqut Cholil.
GP Ansor menyatakan mendukung Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa
(PKB) Dr. HA Muhaimin Iskandar sebagai Calon Wakil Presiden 2019-2024.
Menurut Yaqut Cholil, Indonesia memiliki figur calon wakil Presiden
seperti Cak Imin. Karena Cak Imin memiliki karakter kepemimpinan yang
kuat, berpengalaman, berasal dari keluarga besar Nahdlatul Ulama dan
memberi harapan bagi berbagai kalangan.
Dalam kesempatan bersilaturahmi dengan Cak Imin, Yaqut Cholil juga
mengantar kader-kader utamanya untuk mendaftar sebagai calon legislatif
Pemilu 2019 mendatang.
Dalam kesempatan itu, Cak Imin mengucapkan terima kasih atas dukungan
yang diberikan oleh GP Ansor yang bertujuan untuk kemaslahatan bangsa.
"Saya sangat menghargai apa yang telah disampaikan GP Ansor. Terima
kasih atas dukungannya dan mari kita berjuang agar bangsa Indonesia
lebih baik," kata Cak Imin.
Cak imin mengatakan bahwa kebersamaan dengan GP Ansor bukan tanpa dasar
seperti dasar historis. Dari waktu ke waktu, kata Cak Imin, tantangan
yang dihadapi dengan politik pun harus memiliki strategi.
Kata Cak Imin, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir banyak
kejutan-kejutan yang muncul. "Kita sedang menghadapi perubahan besar,"
katanya.
Cak Imin mengajak GP Ansor untuk memperkuat Pemilu 2019 mendatang,
salah satunya dengan menyiapkan sumber daya manusia yang baik. Karena
satu-satunya kelompok dan kekuatan yang paling minim conflict of
interest adalah keluarga besar NU, dalam mengelola perjuangan kebangsaan
dan kenegaraan.
Menurut Cak Imin, conflict of interest itu memiliki tiga background.
Pertama karena dia seorang pengusaha yang senantiasa mencari keuntungan.
Dalam konteks ini, kata cak Imin, NU tidak memiliki pengusaha besar.
"Nggak mengimpor sesuatu yang sebetulnya rakyat tidak membutuhkannya.
Belakangan ini kita mendengar akan mengimpor beras, padahal rakyat mau
panen. Pasti ada yang sedang mengail dan mengeruk keuntungan," kata Cak
Imin.
Faktor yang kedua conflict of interest, kata Cak Imin, karena jabatan
politik dengan menghalalkan segala cara. Sedangkan keluarga besar NU
selalu mengedepankan ahklakul karimah.
Sedangkan yang ketiga conflict of interest itu berbasis pada
ideologinya. "Kalau kekuatan politik tidak punya ideologi pasti tentu
lahir dengan ideologinya untuk meminimalisir konflik. Kalau sudah begitu
maka insya Allah legislatif dan eksekutif yang diisi oleh orang-orang
NU hampir bisa dijamin pasti akan amanah dan memiliki komitmen yang
tinggi," tandas Cak Imin.

0 Comments: