Catatan kecil saya ini merupakan tafsir subjektif atas pentas teater
“Tebah, Tabuh, Tabah” yang dimainkan oleh anak-anak muda yang tergabung
dalam Komunitas Kembali. Pertunjukan yang digelar dengan panggung
outdoor di Taman Budaya Banten itu diluar dugaan saya, dipadati para
penonton yang tampak begitu antusias mengikuti jalannya setiap adegan
dan gerak yang dimainkan para aktor pertunjukkan. Jujur, awalnya saya
belum bisa menebak arah dan struktur keseluruhan pertunjukan yang
didominasi oleh atraksi-atraksi tubuh dan gerak-gerak para aktor yang,
mohon maaf, mirip sekali dengan para pemain sirkus.
Saya baru merasakan klimaks pertunjukkan tersebut ketika para pemain
Terebang Gembrung mulai memukul-mukulkan tangan mereka pada instrumen
Terebang, yang berkat gaya permainan mereka, terdengar begitu magis oleh
telinga saya yang sebelumnya tidak pernah mendengarkan baik bait-bait
ritmis nada seduktif musikal yang diiringi dengan lantunan zikir dan
syahadat ketika kelompok Terebang Gembrung itu berjalan berkeliling
dengan begitu tertib mengitari panggung pertunjukan (arena).
Jujur, saya terkesima ketika para aktor dengan tubuh setengah
telanjang mereka beratraksi secara tangkas dan lincah sembari memainkan
tongkat-tongkat bambu mereka di atas gundukan pasir dan lalu menabuh
tiga Terebang yang digantung dengan menggunakan bambu dengan cara mereka
melontarkan pasir ke Terebang-Terbang berukuran besar tersebut,
sehingga memunculkan efek magis pula ketika malam yang menudungi arena
pentas seolah lanskap yang begitu puitik karena lampu-lampu yang fokus
menerangi gundukan pasir ketika para aktor bermain, mengolah tubuh
mereka menjadi gerak-gerak alegoris.
Saat menyaksikan pertunjukan tersebut, saya jadi berpikir tentang
tubuh saya sendiri yang senantiasa berada dalam tegangan antara yang
profan dan yang sakral. Betapa selama ini saya disadarkan bahwa saya
hidup bertopang dan berbekal pada tubuh saya sendiri, pada gerak
kehidupan yang saya jalani, pada pola dan laku yang saya praktikkan
sebagai manusia, sebagai individu, ketika gembira atau menderita.
Pertunjukan teater itu telah menyadarkan saya untuk merenungkan kembali
esensi yang wadag, yang palsu, yang hipokrit, yang acapkali mengingkari
kenyataan tubuh saya sendiri bahwa saya bahagia atau menderita dengan
tubuh yang saya miliki.
Lalu, saya pun berusaha menafsir dari setiap gerak yang dimainkan
para aktor dalam pementasan tersebut. Pada mulanya, tiga aktor
pementasan tersebut berjalan dengan koreografi yang dibentuk sedemikian
rupa dengan membawa obor bambu seakan-akan ingin mengabarkan kepada saya
bahwa mula gerak dan prilaku kita dalam kehidupan mestilah diterangi
oleh pelita-pelita kearifan dan kebijaksanaan. Kemudian para aktor
tersebut memasuki pintu pentas pertunjukan yang didesain melingkar
dengan instalasi bambu-bambu seakan panggung itu sendiri adalah sebuah
metafora dunia dan semesta.
Selain efek magis pementasan itu lahir dari olah koreografis dan
gerak alegoris tubuh para aktor yang beratraksi di atas pasir, juga bagi
bathin saya adalah karena komposisi musik tradisional yang dipadukan
dengan musik modern yang dimainkan para pemain musik yang mengiringi
para pemain Terebang Gembrung. Pentas itu, bagi saya sebagai penonton,
adalah contoh kolaborasi antara teater modern dan seni tradisi yang
cukup berhasil mewujud dalam apa yang disebut sebagai Teater Inovasi.
Rasa-rasanya, tidaklah berlebihan, bila dalam hal ini saya mengucapkan:
Selamat kepada teman-teman di Komunitas Kembali yang telah berani
melalukan inovasi seni kontemporer dengan pentas mereka: Tebah, Tabuh,
Tabah!
Salam dan selamat menyaksikan pentas mereka selanjutnya pada 24 Februari 2018!
Sulaiman Djaya (Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Banten dan Aktivis Kubah Budaya)

0 Comments: