PREDIKSI hasil pemilu
adalah gabungan antara kaedah ilmiah dan seni membaca situasi. Tanpa
kaedah ilmiah, itu prediksi semu. Apalagi ilmu pengetahuan sudah sampai
di tahap itu. Perilaku pemilih sudah menjadi kajian ribuan riset ilmiah
sejak lima puluh tahun lalu.
Namun masa depan tak pernah kekurangan kejutan. Realitas selalu lebih
kaya dari konstruksi ilmu pengetahuan. Dalam hal ilmu belum sampai,
sesuatu di luar ilmu bekerja. Untuk mudahnya, sesuatu di luar ilmu itu
kita sebut saja seni.
Januari 2018 ini, LSI Denny JA membuat prediksi. PDIP dan Golkar akan
bersaing memperebutkan posisi partai nomor satu di tahun 2019 nanti.
Namun Gerindra membayangi dan menjadi kuda hitam untuk merebut nomor
satu yang sama.
Prediksi LSI Denny JA memang kerap terbukti. Rekor MURI sudah
diperoleh karena prediksinya sejak pemilu langsung pertama di tahun
2004, (bahkan diiklankan di koran sebelum peristiwa), 13 kali,
keseluruhannya 100 persen terjadi.
Survei terbaru LSI Denny JA menemukan bahwa ada 5 (lima) isu partai
yang menarik. Isu Pertama, hanya 2 (dua) partai politik yang perolehan
dukungan saat ini (elektabilitas) di atas perolehan suaranya di pemilu
legislatif 2014.
Kedua partai tersebut adalah PDIP dan Partai Golkar. Saat ini,
elektabilitas PDIP sebesar 22.2 %, lebih besar dari perolehan suaranya
di pemilu 2014 yaitu 18.95 %. Elektabilitas Partai Golkar sebesar 15.5
%, lebih besar dari perolehan suaranya di pemilu 2014 yaitu sebesar
14.75 %. Elektabilitas partai lainnya rata-rata di bawah perolehan
suaranya di pemilu 2014.
Untuk pertama kali, Golkar mampu meraih dukungan diatas perolehan
suaranya di pemilu 2014. Pada sejumlah survei sebelumnya, elektabilitas
partai Golkar justru mengalami penurunan. Terutama ketika kasus E-KTP
mencuat dan melibatkan Setya Novanto, mantan ketua umum Partai Golkar.
Pasca pergantian kepemimpinan, elektabilitas partai Golkar mulai
membaik dan menunjukan tren kenaikan. Pada survei LSI Denny JA, bulan
Agustus 2017, elektabilitas partai Golkar saat itu sebesar 11.6 %, di
peringkat ketiga dibawah partai Gerindra. Pada Desember 2017,
elektabilitas Golkar naik menjadi 13.8 %, dan Januari 2018 naik lagi
menjadi 15.5 %.
Sementara itu, elektabilitas PDIP justru mengalami penurunan. Pada
survei LSI Denny JA, Agustus 2017, elektabilitas PDIP berada di angka
28.3 %. Naik cukup besar dari perolehan suaranya di pemilu 2014. Pada
Desember 2017, elektabilitas PDIP justru mengalami penurunan yaitu di
angka 22.7 %. Dan saat ini, Januari 2018, elektabilitas PDIP sebesar
22.2 %.
Isu Kedua, ada 3 (tiga) partai papan atas dalam Pemilu 2019, yaitu
PDIP, Golkar dan Gerindra. Partai papan atas adalah partai yang
perolehan dukungannya diatas 10 %. Survei LSI Denny JA, Januari 2018,
menunjukan bahwa hanya 3 partai yang perolehan dukungannya diatas 10 %
dan karena itu disebut partai papan atas.
Menilik kontestasi Pemilu tahun 2009, SBY berhasil mendongkrak partai
baru Demokrat menjadi nomor satu. Itu bukan karena partai demokrat.
Tapi saat itu kuatnya figur SBY yang mampu mengkatrol partai. Prabowo
dapat memberi efek yang sama jika ia berhasil menjelma menjadi capres
yang sangat kuat.
Isu ketiga, PKB dan Partai Demokrat bersaing di posisi No.4. Survei
menunjukan elektabilitas partai Demokrat saat ini sebesar 6.2 %.
Sementara PKB sebesar 6.0%. Perbedaan elektabilitas kedua partai ini
hanya dalam hitungan nol koma.
Di sejumlah survei LSI sebelumnya juga menunjukan kedua partai ini
bersaing dan saling salip dalam peringkat 4 dan 5. Secara isu, saat ini
PKB lebih diuntungkan dengan isu-isu keislaman yang cenderung naik
menjelang pilkada dan pemilu.
Namun demikian, jika partai Demokrat menemukan isu baru yang
menggugah maka peluang partai ini diatas PKB juga besar. Manuver A
Muhaimin Iskandar (PKB) dan AHY (Demokrat) sebagai capres/cawapres di
pemilu 2019 nanti juga akan mempengaruhi elektabilitas kedua partai.
Isu keempat, 5 (lima) partai lama lainnya belum aman lolos
parliamentary threshold (PT). PT pada pemilu 2019 telah ditetapkan
sebesar 4 %. Jika mengacu pada survei LSI Denny JA, Januari 2018, maka
PPP, Nasdem, PAN, PKS dan Hanura masih dalam posisi belum aman untuk
lolos PT. Perolehan dukungannya rata-rata masih dibawah 4 % (kecuali
Nasdem).
Nasdem di survei ini, memperoleh dukungan sebesar 4.2 %. Namun karena
margin error survei ini adalah 2.9 %, maka Nasdem juga tentunya belum
aman dari batas minimal PT 4 %.
Dari 5 partai lama yang belum aman lolos PT, Hanura berada dalam
kondisi yang lebih kritis. Dalam tiga survei terakhir LSI Denny JA,
elektabilitas Hanura selalu di bawah 4 %, bahkan di bawah 2 %. Artinya
partai Hanura terancam terlempar dari parlemen, dan masuk kategori
partai gurem, karena memperoleh dukungan dibawah 2 %.
Dualisme ketua umum yang terjadi di Hanura saat ini juga bisa
memperburuk kredibilitas dan upaya konsolidasi Hanura menghadapi pemilu.
Hanura butuh isu baru yang kuat dan dukungan tokoh atau figur yang
punya daya tarik elektoral untuk menyelamatkan partai.
Isu Kelima, Perindo memimpin partai baru dan partai gurem. Sebagai
partai baru, Perindo cukup memperoleh dukungan pemilih. Pada survei
Januari 2018, elektabilitas Perindo sebesar 3.0%. Perolehan dukungan ini
jauh lebih baik dibanding dengan partai-partai lama seperti PKPI dan
PBB.
Bahkan di survei ini, Hanura sebagai partai yang pada pemilu
sebelumnya berhasil masuk parlemen, elektabilitasnya dibawah Perindo.
Partai baru lainnya yaitu PSI memperoleh dukungan dibawah 2 %. PKPI dan
PBB pun memperoleh dukungan dibawah 2 %.
Resume laporan survei periode Januari 2018 oleh Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia, Denny JA

0 Comments: