Oleh: Imam Muhlis
(Penerima Beasiswa S2 Program In Search of Balance, Kerjasama UGM dan University of Agder Norwegia)
“Siapapun Presidennya, Cak Imin Wakil Presidennya.” Ungkapan dan dukungan terhadap Cak Imin Wakil Presiden kian hari makin santer di seluruh pelosok negeri ini.
Animo dan dukungan masyakarat yang begitu besar terhadap Cak Imin bukannya tanpa dasar. Kiprah dan track records
tokoh muda ini dalam perpolitikan nasional memang tak perlu diragukan
lagi. Ia telah melanglang buana dari masa ke masa. Kedewasaan
berpolitiknya dapat diukur dari identitas karirnya sejak Orde Baru
hingga orde reformasi saat ini.
Di masa Orde Baru, Cak Imin
bersama tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama terutama Gus Dur bangkit dan
bergerak maju dalam rangka menjungkal era kelam demokrasi Indonesia,
yang kemudian salah satunya ditandai dengan berdirinya Partai
Kebangkitan Bangsa (PKB). Partai ini sebagai representasi politik dari
ormas besar Islam di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama.
Bagi Cak Imin,
dunia kepemimpinan maupun perjuangan bukanlah hal baru. Catatan
ketokohannya ditempa dari bawah. Ia tidak serta merta menjadi besar
seperti halnya banyak tokoh muda saat ini yang kerap mendompleng
popularitas sanak keluarganya.
Sejak di bangku kuliah, Cak Imin
aktif di tempat-tempat diskusi. Ia bergabung dengan Pergerakan
Mahasiswa Islam Indonesia dan pernah menjabat sebagai Ketua Cabang PMII
Yogyakarta, aktif di Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), serta
Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) Yogyakarta.
Sejak tahun 1999 hingga 2009 Cak Imin menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI dan menjadikannya pemimpin termuda dalam catatan legislatif Indonesia. Cak Imin juga tercatat sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi periode 2009-2014.
Progresif dan Visioner
Cak Imin
itu pemuda progresif zaman now dan visioner. Ia mampu menangkap dan
memberdayakan kapabilitas yang ada, responsif terhadap setiap perubahan
yang terjadi dan taktis dalam mengolah tantangan dan kelemahan.
Kepiawaian Cak Imin
mengolah alur dan nalar politik sejak Orde Baru hingga orde reformasi,
dapat kita baca dari indikator harmonisnya hubungan NU dan PKB.
Kesabaran, kesantunan dan kecerdasannya memainkan peran penting di
internal partai telah memberi cukup pengaruh atas hubungan relasional
dengan partai politik lainnya.
Progresifitas kepemimpinan Cak Imin
juga dapat dilihat dari capaian PKB dalam Pemilu 2014. Sebesar
11.298.957 suara atau 9,04 persen dengan 47 kursi DPR RI telah
mengantarkan PKB menduduki peringkat 6 besar nasional. Kesadaran
terhadap NU yang tak dapat dipartai-politikkan menjadikan PKB yang
dipimpin oleh Cak Imin
memiliki peluang besar yang dapat dimanfaatkan oleh NU. Artinya, NU
tetap bisa memainkan peran penting dalam perjalanan Republik ini tanpa
perlu terlibat secara institusi dalam pentas politik nasional.
Situasi dan kondisi yang demikian telah secara cerdas dibaca oleh Cak Imin yang mencerminkan betapa visionernya jebolan Fisipol Universitas Gadjah Mada ini. Tidak heran jika saat ini Cak Imin
menjadi kandidat utama tokoh muda Indonesia untuk memimpin negeri ini.
Dengan kendaraan politik yang telah matang, basis massa akar rumput yang
solid, massa NU dan kader PMII menjadi lumbung suara pada pentas Pemilu
Presiden 2019 mendatang, ditambah lagi dengan beragam massa di luar
itu.
Kecerdasan, ketangguhan, kematangan dan kesantunannya berpolitik guna
membangun bangsa yang sejahtera telah menempatkannya sebagai tokoh muda
“zaman now’ dari generasinya. Saat figur pemuda dalam pentas politik
yang se-generasi dengannya gugur dan merasakan dinginnya sel tahanan
negara, Cak Imin
justru kian matang dan tangguh memposisikan dirinya sebagai pemimpin
masa depan. Tidak heran jika beragam gelar telah disematkan kepada Cak Imin
sebagai bentuk prestasi bahwa dia tidak hanya tangguh dalam berpolitik
tetapi juga piawai, santun dan ramah pada semua kalangan serta mapan
dalam berkarya.
Dari gugus pulau Sumatera, Cak Imin telah mendapat penghargaan sebagai “Sayyidul Imam Surya Negara” dari penasehat kota Lubuklinggau. Di sebelah Timur pulau Jawa, Cak Imin diangkat sebagai Panglima Santri. Pada tataran akademis, Cak Imin
juga mendapat pengakuan dengan penyematan gelar Doktor Honoris Causa
(HC) Bidang Sosiologi Politik dari Universitas Airlangga Surabaya. Cak Imin
menyampaikan pidato tematik bertema: Mengelola Kebhinekaan untuk
Kemajuan dan Kesejahteraan Bangsa. Isi pidato itu salah satunya
menyoroti ancaman terhadap NKRI dan nasionalisme yang dimotori kelompok
radikalisme dan fundamentalisme yang menyatakan diri sebagai alternatif
dalam bernegara. Gagasan Cak Imin seputar kebhinekaan ini sudah barang tentu selaras dengan realitas saat ini.
Banyaknya prestasi yang telah diperjuangkan oleh pemuda kelahiran
Jombang ini semakin mempertegas identitas dirinya sebagai seorang
pemimpin yang siap berdampingan dengan siapapun dan tentunya dengan
tujuan membangun Indonesia masa depan.
Visi dan misinya tampak jelas pada publikasi karya terbarunya, yakni
buku yang berjudul "Kontekstualisasi Demokrasi di Indonesia" dan
“Diskriminasi, Intoleransi dan Politik Multikulturalisme", yang
diluncurkan bersamaan dengan tasyakuran hari lahirnya pada 24 September
2017 lalu. Setidaknya Cak Imin
telah menelaah konsep dan tantangan kebangsaan di masa mendatang, yakni
koreksi seputar demokrasi era reformasi dan ancaman perpecahan yang
semakin nyata di ruang multikulturalisme.
Karena itu, dalam diri Cak Imin
telah tercermin satu identitas yang mewakili seorang santri berjiwa
patriot. Dalam karya yang dipublikasikan pada September lalu, telah
mengindikasikan bahwa seorang religius dapat menatap maju pada perubahan
yang dinamis. Di saat banyak kalangan merongrong keutuhan bangsa
Indonesia, para Ulama dan Pesantren terbukti konsisten menjadi benteng
pertahanan utama Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam beberapa agenda besar belakangan ini, Cak Imin
juga fokus pada ruang-ruang spiritual dan mengajak masyarakat muslim
Indonesia untuk bersama-sama mempertebal iman serta mendoakan kemajuan
bangsa Indonesia. Cak Imin
yang lahir di Jombang, 24 September 1966 benar-benar mewarisi gagasan
Gus Dur, bahwa dalam pandangan Gus Dur, sebuah masyarakat tanpa
spiritualitas hanya akan berujung pada penindasan, ketidakadilan,
pemerasan dan pemerkosaan atas hak-hak asasi manusia. Wassalam...

0 Comments: