Islam Rahmatan lil Alamin
Alquran
menuliskan: “Dan tidaklah kami mengutusmu (Muhammad), melainkan untuk
menjadi rahmat bagi semesta alam” (QS: Al Anbiya, ayat 107).
Itulah
janji Tuhan dan itulah sebaik-baik konsep Islam politik dan ekonomi
yang perlu dikembangkan. Semacam jembatan yang mempertemukan konsep
religi dan kebangsaan.
Bagaimana
sejatinya karakter politik rahmatan lil alamin dalam praktik konkret?
Pertama, kita akan selalu melihat seluruh persolan melalui metode yang
disebut al-tawassuth yang berarti moderat, tidak ekstrem liberalis-kiri
atau fundamentalis-kanan. Prinsip kedua adalah at-tawazzun yang berarti
seimbang dalam penerapan kaidah, teks, rasio, dan realitas. Dengan
prinsip tersebut, dalam bidang politik, misalnya, sepanjang
penyelenggaraan pemerintahan berjalan sesuai dengan konstitusi, kita
harus mendukungnya.
Sementara
itu, prinsip ketiga dan keempat adalah al-i’tidal dan at-tasamuh.
Al-i’tidal berarti tegak lurus dan tidak mudah terprovokasi, sedangkan
at-tasamuh bermakna menjunjung tinggi sikap toleran. Peneguhan Islam
rahmatan lil alamin dalam implementasinya selalu didasarkan setidaknya
melalui empat prinsip tersebut.
Tafsir
rahmatan lil alamin dalam alam kekinian adalah tafsir teologis,
sosiologis, konstitusional, dan sekaligus historis. Dalam rangka
perwujudan keadilan sosial dan ekonomi, pasal 33 UUD 1945 –sebagai dasar
konstitusional penyelenggaraan ekonomi kita– wajib diakomodasi menjadi
bagian prinsipiil, bukan komplementer, dalam menerjemahkan ekonomi yang
rahmatan lil alamin.
Pasal
33 menegaskan pentingnya peran negara dalam mengelola hal yang
berhubungan dengan hajat hidup orang banyak. Namun, di sisi lain,
sektor-sektor yang bersifat pendukung/pelengkap dapat diserahkan kepada
pihak swasta. Itu sejalan dengan salah satu prinsip dalam praktik
politik rahmatan lil alamin, yaitu moderat dan tidak berlebih-lebihan.
Semangat
mengelola ekonomi sebagai usaha bersama pun dapat dinilai sebagai upaya
menjaga keseimbangan antara kepentingan pribadi dan kepentingan
bersama. Individualisme dan kolektivisme. Pribadi dan komunitas.
Usaha-usaha ekonomi harus bisa memberikan keuntungan pribadi tanpa
mengambil yang bukan hak dan merugikan manusia lain.
Islam
rahmatan lil alamin tidak cukup lagi hanya menjadi sekumpulan value
yang lembut dan penuh belas kasih. Politik ini perlu dilengkapi
’’perangkat keras (hardware)’’ yang bersifat operasional dan praktis
sehingga bisa diturunkan menjadi kebijakan dan program partai atau
organisasi apa pun yang meyakininya (software). Ia harus menjadi sesuatu
yang membumi, bukan hanya karena soal keimanan.
Tapi
terutama karena politik ini mampu memberikan solusi dan menumbuhkan
harapan. Lagi pula, siapa lagi yang paling membutuhkan rahmat dan berkah
jika bukan mereka yang hidupnya miskin dan kekurangan?
Karena
itu, dalam praktik, politik rahmatan lil alamin adalah politik yang
moderat, seimbang (proporsional), tenang, dan toleran. Dalam alam
Indonesia yang beragam dan riuh rendah ini, praktik rahmatan lil alamin
menjadikan politik terasa lebih manusiawi, hangat, nyaman, dan ramah.
Bergembira dalam perbedaan. Bersahabat dalam kecukupan hidup. (*)
H. A. Muhaimin Iskandar, M.Si
(Ketua Umum DPP PKB)
0 Comments: